Nov 30, 2009

Membangun Bisnis Melalui Reputasi

Berbicara tentang bisnis tidak terpisahkan dari isitilah “Reputasi”. Reputasi yang lebih kurang sama artinya dengan “Nama Baik” adalah modal penting dalam memulai sebuah bisnis. Tanpa memiliki reputasi, berarti tidak ada kepercayaan dan tanpa kepercayaan maka bisnis apapun tidak akan bertahan lama.
Memulai sebuah bisnis berarti sang pebisnis juga mulai membangun kepercayaan dimata pasar, bisa jadi pada awalnya adalah kepercayaan dari kerabat terdekat, kemudian seiring proses waktu kepercayaan semakin luas dan bisnispun membesar.
Bisnis Network-Marketing demikian pula halnya… bagi para pemula tentu saja belum memiliki reputasi dimata banyak orang, namun demikian tentu sudah ada kerabat dekat seperti saudara, teman atau tetangga yang sudah mengenal dan percaya kepadanya, jadi itulah modal awal membangun reputasi. Dan karena itu jugalah mengapa untuk mulai menjalankan bisnis Network-Marketing harus dimulai dengan mensponsori atau menawarkan produk kepada kerabat terdekat terlebih dahulu.
Saya sering mendengar pernyataan orang bahwa mereka sudah beberapa kali menjalankan bisnis Network-Marketing, lalu berhenti dan ganti dengan yang lainnya karena berbagai alasan, seperti “sistemnya yang sulit”, “upline yang pasif”, “produk yang mahal”, “produk sulit dipasarkan” dan lain sebagainya, dan semua itu dijadikannya alasan untuk menjadi petualang bisnis Network-Marketing. Oleh beberapa kalangan di bisnis ini mereka dianggap sebagai “kutu loncat”. Anda tentu tahu bagaimana akhir ceritanya yang selalu sama, yaitu mereka belum sukses di bisnis Network-Marketing manapun.
Lantas, apanya yang salah?
Kembali ke masalah reputasi, menurut Anda apakah orang seperti yang saya maksud diatas layak untuk Anda percaya? Layakkah mereka Anda ajak kerjasama sedangkan mereka sendiri tidak konsisten dengan apa yang telah diputuskannya, dan tidak menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Tentu tidak, bukan?
Bukan saja dalam hal reputasi kurang baik sehingga mereka belum bisa dipercaya, tetapi juga untuk menjalankan sebuah bisnis sangat diperlukan “keuletan”, ibarat lomba lari, tentu berlari menuju garis finis adalah lebih penting daripada sekedar memilih sepatu yang akan dipakai untuk lomba itu. Apalagi jika sudah diketahui bahwa semua pilihan sepatu yang tersedia telah banyak mengantar orang untuk sampai ke garis finis yaitu kesuksesan.
Maka jika Anda saat ini sudah dan sedang menjalankan suatu bisnis Network-Marketing dan Anda sudah tahu bahwa sudah banyak orang sukses didalamnya, saya berpesan untuk Anda menjalankan bisnis itu hingga Anda sukses. Bisnis Network-Marketing adalah jembatan dan Anda sendiri yang harus melaluinya tentu saja sampai sukses.
Jika Anda sedang tidak atau belum menjalankan bisnis Network-Marketing, jangan terlalu lama untuk memilihnya, karena memilih saja tidak mengantar ke garis finis, segeralah bertindak, pilihlah satu bisnis Network-Marketing yang menurut Anda cukup baik, mulailah sekarang juga!
Hanya dengan konsistensi dan keuletan maka segala yang tidak mungkin menjadi mungkin, selain itu akan membuahkan kesuksesan itu juga akan membuahkan reputasi untuk anda, maka Anda akan terus semakin sukses. Semakin besar kepercayaan orang kepada anda, semakin besar pula bisnis anda…
Salam sukses!!
Untuk mengikuti salah satu MLM saya kili di sini
---------------------------

Nov 29, 2009

MLM Sebagai Personal Franchise

Sering sekali terjadi kesimpang-siuran dan anggapan yang salah bahwa seorang distributor MLM diperah oleh perusahaan MLM dan upline-nya. Sebetulnya, seorang pegawai yang bekerja untuk perusahaan apapun harus menguntungkan perusahaannya (kalau tidak pasti dipecat). Berkaitan dengan anggapan yang salah di atas, saya ingin memberikan tambahan informasi. Sebenarnya, baik pegawai yang bekerja untuk perusahaan, maupun seorang distributor MLM sama-sama menguntungkan perusahaan yang menaungi. Walaupun demikian, distributor MLM bisa kaya, bebas waktu dan finansial karena ada di kuadran B (bisnis), sementara pegawai susah untuk kaya, bisa punya uang tapi sulit punya waktu, karena ada di kuadran E (employee).
Saya ingin membandingkan MLM dengan konsep yang jelas-jelas sudah diterima oleh masyarakat luas, yaitu Franchise, di mana franchise juga termasuk dalam kuadran B (bisnis). Jadi kuadran B memberi 3 cara untuk masuk : membuat sistem bisnis sendiri (perusahaan konvensional tipe C), membeli sistem bisnis yang sudah ada (franchise) dan membeli hak akses untuk masuk ke dalam sistem bisnis yang sudah teruji (MLM). MLM sendiri disebut oleh Robert Kiyosaki sebagai Personal Franchise, atau Waralaba Pribadi, yaitu franchise untuk level pribadi, bukan perusahaan.
Mari kita bandingkan MLM dan Franchise :
Satu, Di Franchise : kita awalnya membayar investasi awal untuk bergabung. Nilainya besar, karena level perusahaan (corporate).
Di MLM : kita awalnya membayar investasi awal untuk bergabung. Nilainya kecil, karena untuk level pribadi.
Dua, Di Franchise : kita bayar sendiri semua keperluan, mulai dari tempat, pegawai, transport, konsumsi produk sendiri, dll.
Di MLM : kita bayar sendiri semua keperluan, yaitu transport dan konsumsi produk sendiri. Karena levelnya pribadi, maka tidak perlu investasi tempat, pegawai, stock barang, karena sudah disediakan oleh perusahaan dan/atau stockist.
Tiga, Di Franchise : kita bayar (seringkali sudah include pada paket investasi awal) untuk belajar. Di McDonald's, dikenal Hamburger University. Kalau sudah lulus, baru boleh buka outlet. Jadi kita punya skill dasar dalam berbisnis.
Di MLM : training disediakan (biasanya gratis atau murah sekali) agar kita punya skill dasar dalam berbisnis.
Empat, Di Franchise : franchisee berbisnis menggunakan nama franchisor. Contoh: PT XXX boleh buka outlet McDonald's, tapi nama yang muncul tetap McDonald's, bukan PT XXX. PT XXX jadi perpanjangan tangan McDonald's.
Di MLM : kita berbisnis menggunakan nama MLM di mana kita bergabung, dan seakan-akan menjadi perpanjangan tangan MLM tersebut.
Lima, Di Franchise : Kalau kita besar, bisa disebut kita menguntungkan franchisor.
Di MLM : Kalau kita besar, kita disebut menguntungkan upline dan perusahaan.
Enam, Di Franchise : Pada awal pembukaan bisnis kita, kita didampingi oleh principal dari franchisor untuk memastikan segala sesuatunya benar.
Di MLM : Pada masa-masa awal kita berbisnis, kita didampingi oleh upline untuk memastikan segala sesuatunya benar.
Di MLM : kita memang ibarat membeli franchise.
Bedanya MLM dan Franchise :
Satu, Di Franchise : Bayar royalti tiap bulan untuk franchisor.
Di MLM : Tidak perlu bayar royalti. Upline sudah dapat bagiannya sendiri.
Dua, Di Franchise : Bisa beli hak franchise, tapi tidak bisa jual ke orang lain (1 level saja).
Di MLM : Bisa beli hak franchise, dan bisa menjualnya kepada orang lain (multi-level). Inilah asal kata MLM. Mengapa kok orang mau-maunya beli hak franchise yang nilainya begitu besar???
Satu, Salah satu cara masuk kuadran B (bisnis) yang memberikan kebebasan waktu dan finansial.
Dua, Kalau saya mau jual burger, nama McDonald's lebih punya daya jual daripada XXX Burger.
Tiga, Standarisasi dan duplikasi. Anak SMA pun bisa berhasil kalau diberikan sistem franchise kepadanya. Di perusahaan biasa, pewarisan bisnis bisa berakibat bangkrut.
Empat, Memberikan passive income.
Semoga informasi tambahan ini bisa bermanfaat bagi rekan-rekan sesama distributor MLM maupun rekan-rekan yang penasaran mengenai bisnis MLM. Terima kasih.
Untuk mengikuti salah satu MLM saya klik disini
---------------------------